Manusia, disebut manusia kalau dia mempunyai kebebasan, dia menggunakan akal pikirannya, dia menggunakan standar moralnya, dan dia orang yang bebas berkehendak, itu yang disebut manusia. Jika semua sifat dasar bawaan manusia itu, kemudian diingkari, maka tentu kualitas dia sebagai manusia telah diturunkan. Bisa saja, dia disebut seperti setengah binatang, atau paling tepat disebut dengan budak. Jadi manusia yang telah kehilangan kebebasannya, telah kehilangan akal budinya, telah kehilangan standar moralnya, maka manusia seperti itu masuk didalam kategori orang-orang yang telah mengalami/menjalani perbudakan.
Partai Politik menawarkan platform-nya kepada warga negara, kepada manusia-manusia Indonesia, yaitu manusia yang mempunyai akal budi, kemudian manusia yang mempunyai standar moral yang tinggi, Platform partai politik itu menjanjikan tujuan yang baik dan tujuan yang benar, maka mereka berkumpul didalam partai politik tersebut. Dari cita-cita, dari keinginan, dari harapan orang yang berpartai, tentu mereka ingin menciptakan sebuah masyarakat yang ideal. Tapi apa yang ditemukan oleh warga negara, atau apa yang dirasakan oleh rakyat, justru mereka menemukan sebaliknya, bahwa kebaikan yang dijanjikan, tujuan umum dengan untuk kebaikan bersama, justru itu diingkari oleh elite partai politik, dan mereka-mereka yang menjadi kader partai politik, baik yang ada didalam struktur pemerintahan, ataupun di parlemen, mereka itu adalah orang-orang yang dengan sistem yang ada, orang-orang yang telah kehilangan akal budi, standar moral yang tinggi, orang-orang yang telah kehilangan kebebasannya, karena hak dia sebagai warga negara, apalagi sebagai wakil rakyat, itu telah dipasung oleh kepentingan elite. Sehingga, sangat beralasan kalau kita mengatakan bahwa seorang anggota DPR, atau seorang pejabat publik yang notabene sebagai wakil rakyat, tempat kita menggantungkan harapan untuk menyuarakan kepentingan umum, mereka sudah terbelenggu oleh perbudakan itu, atau mereka sudah terbelenggu dengan kepentingan segelintir elite, sehingga sangat beralasan bahwa wakil rakyat itu atau anggota DPR, atau pejabat publik, mereka itu orang yang sudah terjebak didalam perbudakan politik.
Nah, rakyat yang memilih mereka, itu menjadi orang-orang yang juga secara tidak langsung adalah korban perbudakan dari elite atas tata kelola partai politik yang kemudian sangat menegasikan atau yang mengabaikan apa yang menjadi platform partai politik untuk sebuah tujuan bersama, untuk kebaikan bersama, namun kenyataan yang mereka hadapi dan mereka terima, bahwa rakyat sebagai pemegang kedaulatan, itu kehilangan kedaulatannya dan dibegal oleh segelintir elite partai politik, dan mungkin dapat kita kerucutkan, yaitu kepentingan ketua umum dan kroni-kroninya.
Sehingga inilah, saya mengatakan bahwa bangsa kita, atau rakyat kita, sudah terbelenggu dalam sebuah perbudakan politik.
Oleh. Agung Mozin, 12 September 2025
#bAnG_aMoZ
