Gerakan Perubahan lahir dari kesadaran bahwa politik tidak boleh berhenti pada perebutan kekuasaan, tetapi harus menjadi alat pembebasan rakyat dari ketimpangan, ketidakadilan, dan dominasi elit. Dalam konteks itu, sosok Dedi Mulyadi yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, hadir sebagai figur yang kerap dipersepsikan dekat dengan rakyat, budaya, dan nilai-nilai lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Dedi Mulyadi dikenal publik bukan semata sebagai politisi, melainkan sebagai figur yang menggunakan pendekatan kultural, bahasa rakyat, simbol tradisi, dan empati sosial, untuk menjembatani jarak antara negara dan warga. Pendekatan ini menunjukkan satu hal penting: politik yang menyentuh hati rakyat hanya mungkin lahir dari keberpihakan, bukan pencitraan semata.
Namun Gerakan Perubahan memandang bahwa figur sekuat apa pun tidak boleh menjadi pusat tunggal perubahan. Perubahan sejati tidak bertumpu pada karisma personal, melainkan pada sistem politik yang adil, transparan, dan dikontrol oleh rakyat. Di sinilah posisi Partai Gerakan Perubahan menjadi jelas dan tegas.
Partai Gerakan Perubahan melihat sosok seperti Dedi Mulyadi sebagai cerminan kerinduan rakyat akan pemimpin yang membumi, berani, dan tidak tercerabut dari nilai-nilai sosial dan budaya. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Gerakan Perubahan. Namun partai ini menolak politik yang menjadikan figur sebagai tujuan, bukan sebagai alat perjuangan.
Bagi Partai Gerakan Perubahan, setiap tokoh, termasuk Dedi Mulyadi, harus tunduk pada prinsip kedaulatan rakyat, etika kekuasaan, dan mekanisme organisasi yang demokratis. Politik tidak boleh kembali pada feodalisme baru, di mana ketokohan menggantikan partisipasi rakyat, dan loyalitas personal mengalahkan kepentingan publik.
Gerakan Perubahan tidak mencari sosok yang sempurna, melainkan sistem yang memungkinkan rakyat mengoreksi, mengawasi, dan menentukan arah kekuasaan. Jika seorang figur berpihak pada rakyat, melawan ketidakadilan, dan bersedia menempatkan diri dalam kerangka demokrasi yang sehat, maka ia adalah bagian dari energi perubahan. Namun jika figur menjadi pusat kekuasaan itu sendiri, maka perubahan kehilangan maknanya.
Pada akhirnya, Gerakan Perubahan berdiri pada satu prinsip: politik adalah milik rakyat, bukan milik figur. Tokoh boleh datang dan pergi, tetapi kedaulatan rakyat harus tetap berdiri sebagai fondasi utama perjuangan.
Oleh. Hizriyanda Putra, 19 Desember 2025
#bAnG_pUpUt
